Tampilkan postingan dengan label obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

Cara efektif berhenti dari ketergantungan obat penenang

artikel berikut ini di ambil dari pengalaman pribadi dan pengalaman beberapa orang yang bisa lepas dari ketergantungan obat penenang atau obat yang di berikan psikiatri
Bagi anda yang mudah stress dan mengalami gangguan kecemasan serta gangguan tidur biasannya anda mengkonsumsi obat dari dokter berupa obat penenang. Obat penenang di gunakan untuk mempengaruhi sistem saraf pusat, yaitu memperlambat aktivitas otak sehingga seseorang yang mengkonsumsinya bisa merasakan rasa tenang dan relax. Untuk jangka pendek obat penenang memang efektif untuk mencegah kecemasan berlebih atupun gangguan tidur tetapi dalam jangka panjang banyak sekali jenis obat penenag bisa mengakibatkan ketergantungan. Jika terlalu lama mengkonsumsi obat kimia yang di khawatirkan adalah berefek negative bagi organ tubuh kita.

Berikut adalah langkah-langkah untuk mengurangi atau bahkan berhenti dari ketergantungan obat :

1. Olahraga
    
Dilansir dari Exercise Right, setelah 1 minggu mulai rutin berolahraga, anda akan mulai merasakan perubahan fisik dan mental. Tubuh anda akan mulai menghasilkan lebih banyak energi. Beberapa orang juga merasa percaya dirinya meningkat dan gejala-gejala depresinya berkurang. Dalam waktu 2-4 minggu, olahraga yang teratur akan membuat kekuatan dan kebugaran pada tubuh meningkat dan bisa terlihat jelas.
Banyak dari kita yang malas olahraga, memulainya memang sulit dan harus di paksa (harus di paksa minimal 15 menit sehari lakukan selama 1 bulan) Saat berolahraga Otak akan memproduksi endorfin dan BDNF. Endorfin adalah senyawa yang dapat meredakan stres, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan suasana hati jadi bahagia serta meredakan nyeri. Saat suasana hati mulai senang karena endorphin disitulah kita akan mulai menemukan minat untuk berolah raga. Kemudian, BDNF adalah senyawa yang membantu menguatkan syaraf otak yang membuat anda bisa cepat nangkap dalam belajar.  hidup sehat

2. Tunda atau perpanjang waktu minum obat
    
Misal anda minum obat sekali sehari malam hari pukul 19.00 maka esok harinya anda minum pukul 20.00 esoknya lagi pukul 21.00 dan seterusnya sampai dua hari sekali, 3 hari sekali dan seterusnya.

3. Kurangi takaran obat

jika penundaan minum obat kurang efektif atau bahkan mengganggu tidur anda maka sertai penundaan minum obat dengan pengurangan dosis sedikit demi sedikit, misal kurangi seperempat untuk satu minggu pertama, setengah untuk satu minggu berikutnya dan seterusnya

4. Meditasi     
    
Banyak cara untuk bermeditasi, anda boleh menggunakan cara meditasi apa saja yang menurut anda nyaman. Berikut ini adalah salah satu cara bermeditasi :
Duduk bersila di kamar (pastikan di tempat yang tenang, boleh dimana saja tapi tempat yang aman dan nyaman, jika ada keluarga yang berpotensi berisik dan mengganggu lebih baik ajak sekalian untuk meditasi), tangan saya pertemukan didada seperti pada waktu ingin berdoa, lalu berdoa, setelah doa selesai teruskan dengan meditasi yaitu fokus pada tarikan dan hembusan nafas anda (bernafas seperti biasa saja) jika pikiran kita lari, atau melayang tidak apa-apa cepat kembali lagi fokus pada nafas. Lakukan hal ini 15 menit sebelum tidur, jika dirasa sulit untuk sampai 15 menit lakukan bertahap dari 5 menit, 10 menit dan seterusnya jika bisa 30 menit itu lebih bagus. Jika sudah terbiasa lakukan juga waktu bangun tidur. Setiap orang mungkin akan mengalami perubahan dan kemajuan yang berbeda-beda karena banyak faktor.   

Ingat bahwa segala sesuatunya butuh tekat dan usaha yang keras, serta yakin bahwa kita bisa, tanpa itu niscaya semuanya bisa berjalan seperti apa yang kita harapkan.

Dalam melakukan langkah-langkah untuk berhenti dari ketergantungan obat ini lebih baik jika anda diskusikan terlebih dahulu dengan Dokter.

Selamat mencoba !!!! 

Share:

Senin, 01 Januari 2018

Antibiotik: Teman atau Musuh

Antibiotik merupakan obat yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun penggunaannya yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah.

Antibiotik: Teman atau Musuh

Antibiotik merupakan obat yang sering diresepkan dokter ketika kita mengalami infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang tubuh kita. Antibiotik bekerja dengan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Sebelum meresepkan antibiotik bagi pasiennya, dokter melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengetahui jenis bakteri penyebab infeksi dan memilih antibiotik yang tepat untuk mengatasi bakteri tersebut. Dokter biasanya menyarankan pasiennya untuk mengonsumsi antibiotik hingga habis untuk menghindari resistensi bakteri (bakteri menjadi kebal terhadap obat).

Antibiotik merupakan obat yang sangat bermanfaat bagi kehiudpan manusia, namun penggunaannya yang tidak tepat justru dapat membahayakan. Untuk mengetahui manfaat dan risiko penggunaan antibiotik, kita perlu mengetahui sedikit sejarah penemuan antibiotik yang telah memberikan terobosan dalam pengobatan infeksi.

Penemuan Antibiotik telah menyelamatkan banyak orang


Sebelum antibiotik ditemukan, penyakit infeksi merupakan penyakit yang sangat mematikan. Setiap tahun, ribuan anak-anak meninggal akibat penyakit infeksi seperti pneumonia, meningitis, tuberkulosis (TB), demam tifoid, sifilis, difteri, dan polio. Pada tahun 1928, secara tidak sengaja, seorang dokter bernama Alexander Fleming menemukan kapang yang tumbuh pada cawan petri yang ia gunakan untuk menumbuhkan bakteri Staphylococcus. Kapang tersebut membentuk daerah bebas bakteri di sekitarnya. Fleming melakukang penelitian lebih lanjut dan menemukan senyawa aktif yang kemudian ia sebut penisilin.  Pada tahun 1945, Alexander Fleming memperoleh hadiah nobel atas penemuannya yang telah menyelamatkan nyawa banyak orang. 

Bagaimana Antibiotik Bekerja


Antibiotik bekerja dengan membunuh bakteri atau mencegah bakteri berkembang biak dan menyebar. Namun antibiotik tidak dapat digunakan untuk melawan infeksi virus. Pada umumnya, antibiotik aman digunakan karena antibiotik dapat membunuh bakteri namun tidak merusak sel-sel manusia karena adanya perbedaan struktur sel manusia dan bakteri. Beberapa golongan antibiotik bekerja dengan merusak dinding sel bakteri, menghambat pembentukan protein bakteri, atau mengganggu penyalinan DNA bakteri. 

Masalah yang Timbul Ketika Antibiotik Tidak Digunakan dengan Benar 


Antibiotik merupakan obat yang harus dikonsumsi sesuai dengan resep dokter dan tidak boleh dibeli secara bebas. Penggunaan antibiotik secara tidak tepat dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan. Disinilah pentingnya peran dokter untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu kepada pasien, memastikan bakteri penyebab infeksi, dan memilih antibiotik yang sesuai untuk mengatasi bakteri tersebut. Beberapa antibiotik hanya dapat digunakan untuk membunuh bakteri jenis tertentu. Melalui hasil pemeriksaan tersebut, dokter akan melakukan pemilihan antibiotik yang tepat yang disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien beserta aturan pakainya. Mengonsumsi antibiotik dengan tidak tepat dapat menimbulkan masalah-masalah sebagai berikut: 

1. Bakteri Menjadi Resisten (kebal) terhadap Antibiotik

Penggunaan antibiotik secara tidak tepat dapat menyebabkan bakteri berubah menjadi kebal terhadap antibiotik yang sebelumnya dapat membunuhnya. Hal ini terjadi karena adanya perubahan atau mutasi pada gen bakteri, sehingga antibiotik tidak lagi efektif untuk membunuh bakteri tersebut.

2. Meningkatkan Risiko Timbulnya Efek Samping

Penggunaan antibiotik dengan jenis, dosis, dan aturan pemakaian yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko timbulnya efek samping, mulai dari efek samping yang ringan hingga berbahaya. Efek samping ringan yang dapat timbul antara lain demam, gangguan pencernaan seperti diare, mual dan muntah. Efek samping yang lebih berbahaya antara lain peradangan pada tendon, kejang, gangguan jantung, gangguan pendengaran, gangguan fungsi ginjal, dan reaksi alergi. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh Anda, dapat meningkatkan risiko timbulnya efek yang membahayakan. Salah satu contohnya adalah antibiotik golongan tetrasiklin tidak boleh diberikan pada anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun, ibu hamil, dan menyusui. Tetrasiklin dapat terdeposit pada jaringan tulang dan gigi yang sedang tumbuh (karena terikat pada kalsium) sehingga menyebabkan perubahan warna pada gigi. Oleh karena itu, gunakanlah antibiotik sesuai dengan petunjuk dokter.

3. Reaksi Alergi

Beberapa orang dapat mengalami reaksi alergi bila mengonsumsi antibiotik jenis tertentu. Reaksi alergi tersebut ditandai dengan ruam, pembengkakan pada wajah, lidah, dan sesak bernapas (reaksi anafilaksis). Pada umumnya bila seseorang mengalami reaksi alergi pada salah satu jenis antibiotik, orang tersebut dapat mengalami alergi pada seluruh antibiotik pada golongan yang sama. Oleh karena itu, antibiotik harus dikonsumsi dibawah bimbingan profesional kesehatan
Share: